Thursday, August 20, 2009

Video Indra Brugman

Ara sangat senang hari itu. Wajahnya berbinar penuh keriangan, matanya yang bulat besar memancarkan rona-rona kebahagiaan dan kepuasan. Tingkahnya genit melenggak lenggok memandang bayangan dirinya didepan cermin. “Baju ini bagus sekali, sangat cocok buatku, untunglah ibu mengizinkanku memakainya” gumamnya.

Tak jauh dari situ, sesosok wanita tengah memperhatikan tingkah laku si anak, dia adalah Watti, ibu Ara, wanita itu bersembunyi dibalik daun pintu kamar tidurnya memandangi Ara yang tengah hanyut dalam kegembiraannya. Rasanya baru kemarin dia melahirkan anak itu, fisiknya normal, sebuah anugrah bagi seorang ibu mengetahui anak yang dilahirkannya sehat dan tak kurang satu apapun. Hari itu dia sangat bahagia menimang Ara yang baru saja tiba kedunia, hal yang menambah kebahagiaannya karena ini adalah anak lelaki pertama yang dilahirkannya setelah sebelumnya melahirkan 2 orang anak perempuan yang cantik-cantik. “Anak ini tampan, dan sehat, pasti akan menjadi orang yang hebat nanti”, doanya dalam bathin

Dibalik daun pintu, bersembunyi dalam gelap, dipandanginya lagi Ara, sangat bahagia kelihatannya. Melihat anaknya gembira, Watti juga turut senang. Dia tersenyum, tapi nampak ada guratan kepedihan dibalik senyum itu. Hari ini dia tersadar bahwa anak yang dilahirkannya 5 tahun yang lalu tak sepenuhnya normal dan sehat seperti yang dokter katakan beberapa menit setelah kelahirannya. Ada sebuah ketidaksempurnaan yang melekat dalam diri anaknya dan itulah yang membuatnya pedih.

Hanyut dalam lamunan membuatnya tak sadar bahwa Ara telah berlari meninggalkan cermin keagungannya itu. Rupanya Ara sudah merasa cukup sempurna sehingga aktifitasnya didepan kaca diakhirinya. Ara berlari dengan penuh keriangan menuju pintu utama rumahnya yang sederhana. Menghambur keluar menemui teman-temannya yang sedang bermain lojo-lojo didepan rumah mereka. Gaunnya yang bernuansa merah putih dengan gambar strawberry besar didadanya sangat menggambarkan keceriaan seorang anak 5 tahunan. Seutas renda berwarna merah hati melingkar dipinggang gaun itu dan menjuntai kebelakang membuatnya berkibar diterpa angin sore yang berhembus. Rok terusan dari gaunnya-pun berkibar diterpa gelombang angin ketika Ara berlari.

Semangatnya sangat penuh sore itu sehingga kemungkinan dapat mengisi kembali spirit dari jiwa-jiwa yang lemah dan putus asa. Tapi hal itu segera menguap ketika Ara bertemu teman-teman sebayanya. Bukan pujian yang dia dapat tapi cacian. “bencong!!, Ara bencong!! Yee yeee yeee Ara bencong, Ara bencong” nyanyian hinaan itu ditujukan ke Ara.

Ara berbalik arah, berlari kembali ke rumah mencari pelukan ibunya, mencari perlindungan dibalik lengan kokoh ibunya yang penuh kehangatan. Air matanya mengalir deras, kekecewaan menyelubungi hatinya. Dia tak mengerti mengapa teman-temannya sekejam itu. “Saya bukan bencong! Saya adalah Ara, saya laki-laki!, baju ini bagus, baju bekas kakakku, dia sangat cantik kala memakainya, begitupun aku! Apa yang salah?!” pekik Ara dalam keputus-asaannya

Ara tak mengerti bahwa struktur masyarakat melarangnya mengenakan gaun perempuan, Ara tak tahu, dia hanya mengikuti nalurinya untuk melakukan sesuatu yang membuatnya bebas dan bahagia. Anak sekecil itu harus menjalani hidup yang “istimewa”, keistimewaan yang akan menghadapkannya dengan tantangan-tantangan hidup yang tak mudah. Ara kecil harus bisa melewatinya, dia harus mampu berdamai dengan takdirnya jika ingin bertahan menjadi manusia yang dihormati.

0 comments:

 

Video Gay Homo © 2008 using D'Blogspot Designed by Blogger